Jumat, 17 April 2026

Diduga Matel Beraksi Brutal, Warga Ambil Alih Keadilan Ditengah Mandeknya Penegakan Hukum

Administrator - Selasa, 14 April 2026 08:00 WIB
Diduga Matel Beraksi Brutal, Warga Ambil Alih Keadilan Ditengah Mandeknya Penegakan Hukum
Foto: Ist

MEDAN – Aksi brutal yang diduga dilakukan kelompok mata elang (matel) kembali memicu kemarahan publik. Kali ini terjadi di Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Medan Amplas, tepatnya di sekitar kawasan RSU Mitra Medika Amplas, Senin (13/4/2026).

Peristiwa tersebut bukan sekadar tindak dugaan perampasan dijalanan, melainkan potret nyata keresahan masyarakat yang kian memuncak hingga berujung pada aksi main hakim sendiri.

Menurut keterangan saksi mata, Hendra, kejadian bermula saat sebuah mobil Toyota Calya berwarna silver yang ditumpangi satu keluarga dihadang secara paksa oleh sekelompok pria yang diduga matel.

Baca Juga:
"Mereka sekitar lima sampai delapan orang. Datang pakai mobil dan sepeda motor. Begitu berhenti, beberapa langsung turun dan mengepung mobil korban," ujarnya.

Situasi cepat berubah mencekam. Tiga orang pelaku secara paksa masuk ke dalam mobil korban. Di tengah kepanikan, istri pemilik mobil berusaha menghalangi. Namun bukannya mereda, aksi justru semakin brutal.

"Ibu itu sempat terseret di aspal. Pipinya luka lecet. Itu sudah sangat berbahaya. Kalau ada kendaraan lewat, bisa saja nyawanya melayang," tutur Hendra.

Ironisnya, aksi yang berlangsung di ruang publik tersebut terjadi seolah tanpa rasa takut. Seakan-akan hukum tidak lagi menjadi batas.

Baca Juga:
Warga yang menyaksikan kejadian itu akhirnya bergerak. Bukan karena ingin menjadi pahlawan, melainkan karena tidak ada pilihan lain saat rasa aman terasa hilang.

Sebagian pelaku berhasil membawa kabur mobil korban. Namun dua orang tertinggal. Di titik inilah, kemarahan warga yang selama ini terpendam meledak.

"Dua orang itu dihajar massa. Yang lain kabur. Mobil mereka juga tertinggal di lokasi," kata Hendra.

Dua pria tersebut kemudian diamankan warga di sebuah lokasi usaha setempat, menunggu aparat datang.

Baca Juga:
Keterangan lain datang dari Gunawan, seorang pengemudi ojek online. Ia menyebut kelompok yang sama diduga sudah beberapa kali beraksi di wilayah lain, termasuk di Jalan Gatot Subroto.

"Bukan sekali ini saja. Sudah sering. Tapi ya begitu… kalau tidak viral, seperti tidak dianggap," ujarnya dengan nada getir.

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Di tengah maraknya aksi serupa, masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas aparat penegak hukum (APH) dalam menindak praktik-praktik yang diduga meresahkan ini.

Fenomena matel yang beroperasi di ruang publik bukan hal baru. Namun yang menjadi ironi, keberanian mereka justru seolah semakin terbuka. Sementara rasa aman masyarakat kian terkikis.

Baca Juga:
Peristiwa diseputaran Amplas itu menjadi alarm keras: ketika hukum dianggap lambat atau bahkan absen, masyarakat bisa berubah menjadi "hakim jalanan."

Dan itu bukan solusi, melainkan tanda bahwa ada yang tidak beres dalam sistem.

Kini publik menunggu, bukan sekadar penangkapan pelaku, tetapi tindakan tegas dan konsisten dari aparat. Sebab jika tidak, kejadian serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang, mungkin dengan korban yang lebih parah. (Adils)

Baca Juga:

Editor
: Administrator
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Pensiunan Karyawan Gugat PTPN2 Sekarang Bernama PTPN I Regional l Tanjungmorawa ke PHI Medan
Lom Lom Suwondo Sampaikan LKPJ Bupati 2025 di Rapat Paripurna DPRD
Produksi Jagung Saentis Meningkat, Wabup Tekankan Pentingnya Pendataan Untuk Hilirisasi
Bupati Tinjau Distribusi MBG di SDN 106144 Sei Mencirim Sunggal
Setahun Lebih Tanpa Kepastian, Kasus Berdarah Mahasiswa UMA Mandek- Kinerja Polsek Medan Tembung Disorot
Deliserdang Dukung Kejurnas Sprint Rally 2026, Dorong Sport Tourism Dan Pembinaan Pembalap Muda
 
Komentar