MANDAILING NATAL — Aktivitas pembalakan liar di kawasan Hutan Lindung (HL) Puncak Pas Sopotinjak dan sekitarnya kembali menuai sorotan tajam dari tokoh masyarakat Mandailing Natal. Ali Mutiara Rangkuti, salah satu tokoh yang vokal terhadap isu lingkungan dan kebijakan publik ini menegaskan bahwa pembalakan di wilayah tersebut masih terus berjalan, terutama di sekitar ruas Jalan Provinsi dekat Aek Namalas, Tarlola.
Ia mengungkapkan bahwa aktivitas pengangkutan kayu secara ilegal masih terjadi secara rutin."Setiap Malam Rabu dan Malam Jumat selalu ada truk bermuatan kayu di lokasi itu, di ruas jalan provinsi dekat Aek Namalas, di Tarlola," ujarnya.
Baca Juga:Menurutnya, kondisi lingkungan di kawasan itu sangat berisiko. Curah hujan yang tinggi dan kondisi hutan yang terus tergerus membuka peluang terjadinya bencana besar sewaktu-waktu.
"Di wilayah itu selalu hujan. Hujan gunung. Kalau tanah kenyang air, habis daya serapnya, maka akan bandang. Gelondongan kayu akan hanyut menerpa pemukiman," kata Ali Mutiara.
Selain masalah penebangan liar, ia juga menyinggung keberadaan lubang-lubang tambang emas yang ditinggalkan tanpa reklamasi dengan kedalaman mencapai 20–30 meter. Lubang-lubang tersebut kini terisi air dan berpotensi menambah besar dampak bencana."Lain lagi lubang-lubang tambang emas yang kedalamannya 20–30 meter, ditinggal tanpa reklamasi, penuh air. Itu berpotensi menghanyutkan pemukiman," tambahnya.
Ali Mutiara mengatakan bahwa kerusakan ekologis di area itu dapat berdampak langsung pada masyarakat di bawahnya, seperti Desa Tano Bato, Huta Rimbaru, hingga jalan lintas utama menuju Pantai Barat.Ia memperingatkan keras bahwa bencana serupa apa yang terjadi di Aceh atau Sayur Matinggi tidak mustahil akan menimpa Mandailing Natal jika aktivitas ilegal ini tidak segera dihentikan.
"Harapan kita di sana jangan terjadi bencana seperti di Aceh atau Sayur Matinggi. Kalau itu nanti terjadi sampai Tano Bato. Jalan-jalan juga bisa amblas," ujarnya.Karena itu, ia meminta tindakan cepat dan tegas dari para aparat.
"KPH IX mesti tegas, tangkap bawa ke kantor. Polhut mesti gercep. Bantu kami dengan jabatan kalian," tegasnya.Selain aparat pemerintah, ia juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif. Ia meminta warga agar tidak tinggal diam dan segera melapor kepada Polres Madina atau langsung kepada Bupati bila melihat aktivitas pembalakan.
"Masyarakat juga harus berperan membuat laporan. Kalau melihat ada orang melakukan pembalakan, mestinya itu ada perhatian khusus, karena di bawahnya ada desa dan jalan utama. Masyarakat jangan biarkan jika mengetahui pembalakan di hutan sekitar jalan lintas Tano Bato–Sitinjak," katanya.Ali Mutiara menekankan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Ia berharap semua pihak — pemerintah, aparat, KPH, Polhut, dan masyarakat — bergandengan tangan menjaga hutan Madina sebelum terlambat. (RHY)